button follow

A Story of A Speechless Girl:Episod 1 Part 2

Jannah kan ada.Biarlah Diyana berbual dengan Jannah dulu.Jannah kan lagi penting dari aku,”Hati aku berbisik jahat.Aku menggelengkan kepala.Terus aku beristighfar.Jahat betul hati aku mengutuk.Sekali lagi mata aku mengerling ke arah jam yang digantung di atas pintu bilik prep.Lima minit sudah berlalu.
          “Aen.Kenapa dengan kau ni?Macam tak tenang je”Sakinah menegur aku.Lain-lain pun ikut sama melihat aku.”Tak ada apa-apa lah,”Aku berdalih.Aku terasa berat untuk meninggalkan ‘halaqah’ yang sedang rancak berbual.Lebih-lebih lagi dengan topik yang sangat menarik hati.Hati aku dalam dilema kini.
          “Aku dalam dilema ni.” “Kenapa?Apa yang dilemanya?”Julia bertanya.Gadis itu memang suka mengambil berat.
          “Tak ada apa-apalah.Huhu...aku merepek je tadi.”
“Kau ni...malas je Aen,”
          Hati aku terus saja melawan padahal kenyataannya aku sangat ingin untuk menemui Diyana.Namun aku ego.Ego dengan diri sendiri.
Segalanya cukup menekan emosi aku.Keesokan harinya,aku masih lagi teringat kata-kata Diyana.Ok.Aku mahukan sehelai tisu sekarang.”Kau datang ke semalam?”Aku teragak-agak.Menipu atau kata saja yang benar.”Tak,aku tak datang semalam,”Akhirnya.Aku terpaksa juga kata yang benar.”Aku dah agak.Kau memang takkan datang,”Ok.Sekarang aku marah.Mana aku tahu kau berharap dengan kehadiran.Persahabatan memang menyakitkan hati.Selama ini aku tidak pernah pula tahu Diyana menghargai aku.Tidak pernah sama sekali.Sekarang tidak lagi dan aku pula tidak tahu.
          Aku memang terasa diri ini orang yang paling bodoh di dunia.Kenapalah aku tak pergi saja semalam.Yalah.Aku bukan orang yang penting bagi Diyana dan sekarang aku menyesal.Namun,apa aku boleh buat sekarang.Aku hanya mampu melihat Diyana pergi,menyertai gengnya.Huh....aku memang sentiasa mengecewakan semua orang.Mungkin betul juga kata Diyana dulu.”Kau memang spoiled”.
Tapi apa pun aku tidak boleh apa-apa.Semua sudah terjadi dan hanya mampu untuk menerima saja seadanya.
          “Aen!”Julia menyergah aku.Baru aku sedar.Julia memang suka menyinarkan kembali hari aku.Julia....tinggal setahun saja lagi dan aku mungkin akan kehilangan kau.Aku juga mungkin kehilangan Diyana.Kehilangan memang menyakitkan.
          “Julia....kenapalah aku ikut cakap hati aku?Kalaulah aku ikut cakap kau semalam kan bagus,” “Kenapa?”
          “Hm...biasalah.Diyana lagi...”
“Oh....biarlah Aen.Aku tahu dan pasti Diyana akan tersedar juga.Kau pun penting juga bagi dia tapi kalau kau tak penting bagi Diyana.Kau penting bagi aku,” Aku cuma tersenyum tawar.Julia hanya mengambil hati aku.Bukannya mengatakan ikhlas dari hatinya.
          “Dahlah...jangan nak sedih-sedih sekarang.Hari masih lagi panjang,”
          “Hm..betul tu.Hari masih panjang!”




         

No comments:

Post a Comment